
News Lintas Sulawesi/Palu, Sulteng; Seorang warga Jalan Tombolotutu, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) inisial RA menjadi korban dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Ibu beranak satu ini kini sedang menuju ke Jakarta setelah berhasil melarikan diri dari rumah penampungan tenaga kerja yang akan menyelundupkannya ke luar negeri, Rabu siang(8/5/2024).
Aduan mengenai salah seorang warga Jalan Tombolotutu, Kelurahan Talise, menjadi korban dugaan human trafficking diperoleh media ini berdasarkan informasi yang disampaikan Aktivis Sosial, Yahdi Basma, S.H., kepada media ini, Rabu malam (8/5/2024).
Yahdi menuturkan, korban dugaan TPPO atau human trafficking ini terungkap ketika dirinya memperoleh pesan melalui WhatsApp dari nomor tak terdaftar di ponselnya.
“Ba’da Isya malam ini, Rabu, 8 Mei 2024, saya mendapat WA dari nomor tak terdaftar, lalu saya telpon, suara perempuan, mengaku bernama inisial R, mengenal saya dalam salah satu pertemuan yang pernah saya lakukan di daerah Talise, Palu, saat Ramadhan 1445 H lalu,” kata mantan anggota DPRD Provinsi Sulteng ini menyebutkan nama lengkap korban.
Yahdi mengakui, korban inisial R yang dikenalnya bernama lengkap AR, warga Jalan Tombolotutu, Kelurahan Talise Valangguni, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Lantas, Yahdi meminta korban segera mengirimkan nomor kontak suaminya untuk berkomunikasi lebih lanjut.
Yahdi lantas menelpon suami korban dan menceritakan kronologi hingga istrinya kini menjadi korban dugaan tindak pidana perdagangan orang di Surabaya.
Dari balik telepon, terdengar suara isak tangis dari suami korban mengungkapkan, bahwa sekitar Sabtu, 4 Mei 2024, istrinya diajak oleh temannya untuk bekerja di Jakarta, melalui sebuah perusahaan Naker dari Kota Palu. Sehingga, ibu beranak satu ini ikut berangkat ke Jakarta pada Ahad, 5 Mei 2024.
Setiba di Jakarta, pihak perusahaan yang memberangkatkan korban menyampaikan, bahwa yang bersangkutan akan dibawa ke Surabaya esok harinya, karena pekerjaan tersebut berada di Surabaya.
Kemudian pada Senin, 6 Mei 2024, korban tiba di Kota Surabaya, lalu ditampung di suatu rumah dan tak diberi makan seharian.
Ketika sudah berada di rumah penampungan tersebut, korban baru menyadari kalau dirinya ini tertipu. Karena gelagat orang-orang perusahaan dimaksud, nampaknya akan membawa korban bersama beberapa orang di rumah penampungan itu ke luar negeri.
Menyadari hal itu, korban kemudian mencoba melarikan diri dari rumah penampungan tersebut. Namun, rencana korban melarikan diri berhasil digagalkan oleh oknum perusahaan, sehingga korban dimasukkan kembali ke dalam rumah tampungan.
Korban kembali mencoba melarikan diri pada Rabu siang (8/5/2024), dan berhasil kabur dengan hanya membawa satu unit ponsel, KTP dan baju di badan. Koper dan seluruh bawaan milik korban, ia tinggalkan di rumah penampungan.
Ketika berita ini dalam proses editing, Yahdi Basma yang merupakan Pendiri PENA98 itu menyebutkan, bahwa korban sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta menggunakan bus penumpang. Diperkirakan korban tiba di Pasar Rebo Jakarta pada dini hari ini, Rabu (8/5/2024) pukul 03.00 WIB atau pukul 04.00 Wita.
Sementara itu kata Yahdi, tindaklanjut yang ia tempuh menyikapi laporan dugaan TPPO tersebut adalah;
Pertama, mengidentifikasi data korban dan diperoleh alamat lengkap korban Jl. Tombolotutu No. 133-A, RT-001 RW-002, Kelurahan Talise Valangguni, Kota Palu, beserta identitas suami korban inisial AR dan nomor Kartu Keluarga korban.
Kedua, segera menghubungi para pihak terkait, di antaranya Kantor Perwakilan Provinsi Sulteng di DKI Jakarta, sejumlah LSM misalnya MIGRAN Care melalui Direktur LIBU Perempuan Palu, dan sebagainya.
Karena saya meyakini, kasus ini patut diduga sebagai praktik human traficking yang bisa jadi sudah berlangsung lama di Kota Palu dan daerah lainnya, juga menjadi edukasi bagi publik untuk lebih hati-hati menerima tawaran pekerjaan dari siapa dan dimanapun,” kata anggota Partai Nasdem ini.
Update Kawal Dugaan Kasus TPPO di Palu
- Korban AR, warga Jl. Tombolotutu masih berkomunikasi dengan saya dan suaminya di Palu. Namun karena korban tdk membawa charger & power bank, maka saat Bus Harapan Jaya singgah di Rest Area, jalur Surabaya – Jakarta, Korban pinjam charger HP milik penumpang.
- Bus dimaksud diperkirakan tiba di Pool Bus HARAPAN JAYA, Pasar Rebo Jakarta, sekira 10an menit kemudian.
- Yahdi Basma berkoordinasi intens jam ke jam dengan Jejaring yg respon. Adalah Johannes Hutabarat, jurnalis yang domisili sekitar Pasar Rebo, saat ini sedang stay menunggu Bus di Pool Harapan Jaya, Pasar Rebo, untuk memastikan bahwa Korban dalam keadaan sehat dan diantar bersama Mushashi elRahma (Aktivis 98 Jakarta), dan akan diantar ke pihak PENA’98 (Persatuan Nasional Aktivis 98).
Hingga Update Laporan ini saya Rilis, kondisi fisik dan psikis Korban, dalam penilaian saya via telepon & chating, cukup memadai.
Palu, 09 Mei 2024
Pukul 06.40 WITA.
Yahdi Basma, SH.
(Inum-CP/Red)
