“Konsolidasi Bantaya Palu: Dampak Buruk KEK dan Keluhan Nelayan Terdengar di Diskusi kelurahan Baiyya Kecamatan Tawaeli Palu Utara”

News Lintas Sulawesi/Palu Sulteng; Barisan Teman Yahdi Basma (Bantaya) yang merupakan salah satu organ relawan Partai NasDem di Sulteng lakukan konsolidasi, jumat malam 8/3/2024.

Konsolidasi kali ini berupa diskusi dan pengukuhan Bantaya Kelurahan Baiya Kecamatan Taweli, Palu Utara.

Adapun koordinator Bantaya Baiya yang dikukuhkan malam itu adalah Arfan, dengan tujuh anggota yang terdiri dari Nelayan, aktivis perempuan dan pemuda.

Mereka antara lain Nurdin B.Ali, Ivonila, Fitriana, Intan, Dian, Ningsi, Magfira, Dan Giana.

Dengan demikian, kini Bantaya telah terbentuk di 35 dari 46 Kelurahan se Kota Palu, setelah bulan Februari terbentuk Bantaya Kelurahan Talise.

Usai pengukuhan, mengemuka berbagai isu dalam diskusi, antara lain soal dampak buruk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atas hadirnya perusahaan asing.

Bagaimana tidak, ada tiga Kelurahan yang masuk lingkup area KEK yakni  Kelurahan Baiya, Pantoloan dan Kelurahan Taipa, selama ini keluhkan dampak buruk dari limbah getah pinus perusahaan asing tadi.

Satu dari sejumlah tenant (pengguna) di KEK itu adalah PT Hong Thai International (HTI), memang diketahui sejak 2017 mengekspor hasil olahan getah pinus ke Guang Fu China, dimana pengolahannya dilakukan di KEK Palu.

Menurut salah seorang peserta diskusi, limbah olahan sejak lama dibuang ke sungai dan laut pesisir pantai Palu.

“Dampak paling parah yang kami alami adalah rusaknya biota laut. Bertahun-tahun Nelayan di pesisir teluk Palu, khususnya Nelayan Pantoloan, Baiya dan Taipa ini, tidak lagi temukan rono (ikan teri, red), nener dan ikan lainnya,” ungkap salah seorang tokoh pemuda Baiya bernama Jufri.

Ditambahkan Jufri, hasil tangkapan yang dulu demikian banyak, setelah perusahaan-perusahaan itu muncul, sumber penghidupan kami menjadi hilang, terlebih setelah bencana Gempa tsunami dan likuifaksi 28 September 2018 silam.

“Kami sudah ketemu berkali-kali dengan pihak perusahaan, pihak KEK bahkan Pak Walikota, namun janjinya tinggal janji, ” keluh Jefri yang disambut yel yel puluhan warga yang hadir malam itu.

Tidak cuma soal itu, lima orang ketua Rt se Baiya yang hadir bersama ketua Nelayan Baiya, Din juga ajukan keluhan.

Untuk memudahkan nelayan mendorong dan menambatkan perahu nelayannya, mereka serempak meminta dengan sangat agar  jembatan titian bagi Nelayan di Baiya dapat dibangun.

“Ini sumber ekonomi keluarga sejumlah warga lokal disini Pak Yahdi, jadi tolong sampaikan kepada Ibu Nilam Ketua DPRD kami, tolong perhatikan kami,“pintah Ketua Rt 10 Usman kepada Yahdi Basma,SH.

Seperti diketahui, selain dikenal sebagai aktivis bencana Pasigala ( Palu, Sigi dan Donggal) 2018, yahdi juga merupakan ex anggota DPRD Sulteng dua periode, dimana saat ini digadang-gadang  menjadi calon walikota Palu pada pilkada Nopember 2024 nanti.

Posisi kami hadir lima Ketua RT ini tambah Usman, adalah bentuk dukungan moral kepada Pak Yahdi di Partai NasDem terkait Pilwali (pemilihan walikota, red) nanti.

“Namun tentu kamipun tegas sampaikan bahwa secara formal, kami ketua-ketua RT sebagai pemerintah setempat harus netral,”pungkas Usman yang lagi lagi disambut yel yel hadirin. (INUM CP/RED)

Tinggalkan komentar