
News Lintas Sulawesi/Sigi Sulteng : Proyek garapan PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero Tbk perihal output pekerjaan rehap rekon irigasi gumbasa dengan panjang volume pekerjaan 8 km itu, dikeluhan masyarakat dusun 4 rt 13 Desa Bora Kec. Sigi Kota, Sigi Sulawesi Tengah
Proyek Rehabiltasion Recontruction Gumbasa Irigation Syistem (RRGIS) yang di kelolah oleh PT. PP itu diketahui, dibeberapa titik item memang metode penggarapannya secara teknis telah sesuai dengan aturan metode dan petunjuk rencana angggaran pembelanjaan (RAB) dari PUPR.
Pada pengerjaan konstruksi dibagian groundshill pasalnya di jalur primer yang melewati pemukiman warga sepanjang 1,500 meter itu, tidak diprotek dengan desain tangga (washing step) atau tangga bakal kepentingan emegensi
Sedangkan akses jembatan bakal pelintasan warga dipintu air pun tampak volume kerjanya diperkecil, demikian diungkapkan oleh Jusman, Ketua Rt 13 Dusun 4 Desa Bora, menjawab News Lintas Sulawesi beberapa saat yang lalu.
Terkait prospek proyek rehab rekon yang dikelolah oleh PT. PP persero itu, diketahui menelan anggaran ratusan miliar rupiah lebih, adapun sebagai indikator lain adalah, bahwa perusahaan tersebut diduga tak memasukan format rancangan untuk kegiatan siaga emergensi atau tangga darurat pada talud sepanjang1500 meter.
Bahkan kami menilai perusahaan itu terkesan mengabaikan keselamatan jiwa warga yang hidup dan tinggal berdampingan dengan irigasi itu, “tutur Jusman.
Metode pengerjaan talud (groundshill) sepanjang 1500 meter yang posisinya ditengah pemukiman warga itu, tampak tak memfasilitasi peruntukan tanggga ditalud primer tersebut.


Berkaitan dengan hal itu juga, secara teknis tata kelolah proyek sistem rehabilitasi rekonstruksi irigasi gumbasa paket lll itu juga diduga tak merelisir proteksi siaga (emergensi) atau keselamatan warga dan juga ternak mereka. Harusnya pihak pengelolah proyek, memproyeksikan fasilitas tangga (washing step) atau siaga emergensi dijalur primer itu.
Diketahui juga peruntukan tangga dipemukiman warga disepajang jalur primer irigasi itu tak terlihat samasekali, dan hanya diplot dijalur yang tanpa penduduk, sementara di pemukiman yang ramai penduduknya, tak terlihat ada tanda-tanda pembuatan tangga dilokasi itu.
Padahal proyek rehab rekon irigasi gumbasa (RRGIS) yang disokong oleh dana Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, senilai Rp. 256.901.079.000, dan rentang waktu masa kalender 457 hari, sedangkan protek kontrak kerja PT.
PP itu dimulai pada 2021 – 2023 tahun ini, “unkapnya.
Lanjut Jusman, mayoritas warga yang tinggal dibantaran irigasi sangat menginginkan pembuatan tangga tersebut, maka dengan dibuatkannya tangga itu, warga juga gampang menggiring ternaknya, dan sebagai alternatif, warga juga bisa memanfaatkan air irigasi itu untuk kebutuhan yang lain.
“Maka dengan adanya tangga (emergensi) ditalud tersebut, sangat besar manfaatnya bagi warga yang bermukim disini terkhusus warga Sigi
“Adanya suplay air dari aliran jalur primer irigasi itu “insya Allah” dapat mulihkan dan memakmurkan kembali ekonomi warga Sigi yang sedari dulu mengalami kerterpurukan akan sandang dan pangan, “Pungkasnya.
Hal senada juga diunkapkan oleh Lutfi yang juga masih warga di RT yang sama, dipaparkannya jika menyangkut pembuatan tangga di talud primer, itu luarbiasa besar dampak positifnya bagi warga desa kami, efek yang lain adalah dapat mengantisipasi ketiaka ada warga mengalami kecelekaan atau pengendara beroda dua yang tiba-tiba lengah, lalu kemudian langsung nyunsep dan kecebur di air irigasi tesebut.
Sebab menurut pengalaman kami sebelumnya atau aliran air irigasi gumbasa itu cukup deras, kita mayoritas warga di dusun 4 rt 13 ini, yang juga sudah puluhan tahun tinggal di bantaran irigasi ini, sering kali mengalami kejadian melihat orang kecelekaan yang nyunsep dan kecebur didalam irigasi itu, “beber Lutfi.
Bukan cuma itu saja, bahkan ternak seperti sapi, kambing dll juga sering terpeleset lalu kecebur di saluran primer irigasi itu
“Dan tetntunya kala itu sebelum terjadinya musibah gempa dasyat pasigala lima tahun yang silam yang mana meluluh tantahkan hampir seluruh fasilitas umum termasuk irigasi ini, “ungkap Lutfi.
Lanjutnya menambahkan, terlebih lagi kami selaku warga desa yang telah berpuluh-puluh tahun bermukim di dusun yang hidup berdampingan dengn irigasi gumbasa ini, menilai kosnstuksi irigasi sebelumya atau sebelum dilakukannya rehab rekon, bangunan kontriksinya juga sangat kuat dan kokoh
“Untuk itu kami meminta kepada pihak yang berkompoten dalam hal ini adalah pihak leding sektor BWSS lll Palu dan pihak pengololah project yakni PT PP, agar dapat merealisir aspirasi warga desa dusun 4 rt 13 Bora, juga dusun 3 Soulove sebab peruntukan tangga (washing step) dibir talud itu sangat kami butuhkan kebeadaanya, “harapnya.
“Dan juga akses jalur jalan alternatif di pintu air, itu amat besar manfaatnya buat warga disini, fasilatas itu bakal dijadikan suplay air minum untuk ternak warga dll, “pintahnya.
Perihal narasi Pak RT dan Lutfi, justru dubenarkan oleh Hadi selaku intenal Projek Maneger yang juga Humas PT. PP (persero) Tbk saat dihubungi awak media melalui chat Whatsaapnya, mengait soal akses jembatan penghubung di pintu air, dan juga peruntukan tangga atau washing step bakal digunakan warga untuk kepentingan mencuci piring dan pakain, juga untuk kepentingan memandikan ternak mereka, hingga perihal terkait plasteran pada kosntruksi di pintu air tersebut.
Hadi menimpali, menurutnya “hal itu memang benar, secara teknis, metode pegerjaaan talud, tidak ada dalam cakupan progres, dimana pada panjang volume pekerjaan itu mencapai 8 km, “tutur Hadi.

Terkait desas-desus mengenai warga desa melakukan aksi demo disekitaran bantaran irigasi itu, “syukurlah” masalah itu telah dinegosikan dan teratasi dengan baik dan aman, bahkan tututan mereka pun sudah saya sampaikan ke bagian tehnik, “walhasil” itu telah kami tindak lanjuti. Perihal plasteran konstruksi dibagian pintu air itu juga belum selesai atau belum dirapikan
Tetapi pada tahap finising ini, pengerjaan plasteranya akan terus digenjot dan dipacuh agar cepat rampung, itupun “udah direncanakan sama bagian tehnik,” dan harus selesai bulan ini sesuai target kontrak kerjanya, dan mentok pada 31 Desember 2023 tahun ini, “ungkapnya.
Lalu kemudian bahwa soal dibuatkannya tangga (washing step) bakal memandikan ternak dan, juga untuk kepentingan lainya
Hal tersebut “sudah dibahas sama kami,” atau tepatnya telah dikoordinasikan ke tim pelaksana tehnik. Walhasil ujarnya membenarkan, apa yang disuarakan oleh warga desa rt 13 kami telah sepakati sesuai dengan permintaan mereka
“Artinya tuntutan mereka menyangkut permitaan warga setempat soal diperlebarnya jembatan penghubung di pintu air itu, realisasinya telah dipenuhi oleh pihak pengelolah PT. PP (persero)
“Kini pekerjaan proyek rehab rekon irigasi itu dalam tahap proses finising, “pungkasnya.***
(Nelwan Makkuraga/Sigi/red)
