LEGACY POLITIK KERANJANG SAMPAH ALA JOKOWI

Oleh
Muh. Ikbal l lapabburane

News Lintas Sulawesi/Makassar

Perjalanan panjang karir politik jokowi terbilang mulus dan cemerlang yang dimulai dari solo sebagai wali kota, gubernur DKI dan selanjutnya menjadi presiden Republik Indonesia dua periode, dari perjalanan panjang ini tentu titik starnya dari partai demokrasi Indonesia perjuangan dan disanalah jokowi dibesarkan sebagai kader dan petugas partai.

Seiring perjalanan waktu tabiat berkuasa jokowi semakin menunjukkan inkonsistensi dirinya sebagai kader partai yang bersemboyan PARTAI WONG CILIK ditandai dengan kebijakannya yang seringkali tidak memihak kepada hajat hidup rakyat utamanya kelas menengah kebawah sebagai basis utama PDIP, indikasi demikian bisa kita lihat dengan kenaikan harga BBM berkali-kali di saat daya beli masyarakat rendah dan ironisnya harga BBM dinaikkan berulang kali disaat harga minyak dunia turun,begitu pula dengan listrik yang berkali-kali dinaikkan tarifnya secara silent dan kenaikannya ada kalanya di umumkan tengah malam.

Kenaikan harga kedua elemen kebutuhan dasar diatas sudah pasti mendongkrak harga-harga kebutuhan pokok lainnya yakni kebutuhan sandang pangan dan papan, ironisnya lagi di saat yang sama harga komoditi milik petani malah anjlok disebabkan kebijakan impor pemerintah yang ugal-ugalan, komoditi pertanian hampir seluruhnya di impor mulai beras, gula, kedelai, bawang merah dan putih buah-buahan bahkan garam pun di impor sehingga harga garam petani kita berada pada titik nadir, kondisi ini berdampak lansung terhadap citra PDIP sebagai partai pengusung utama jokowi, keadaan seperti ini bisa sangat berpengaruh terhadap kwantiti voters PDIP pada perhelatan pemilu dengan demikian PDIPlah yang menjadi keranjang sampah pertama dari jokowi.

Setelah sembilan tahun lebih PDIP menjadi pesakitan jokowi akibat banyak keputusannya yang bertolak belakang dengan visi misi dan jargon partai, menjelang akhir periodenya jokowi melakukan blunder besar berupa penghianatan terhadap PDIP bersama putranya dan menjadi puncak klimaks rusaknya hubungan antara jokowi dan PDIP yang notabene partai yang telah mengorbitkan dan mengantarkannya ke puncak karir politik tertinggi, jurus mabuk yang diperagakan jokowi ini tak lain dan tak bukan hanya untuk membangun dinasti politiknya dengan cara melabuhkan gibran ke partai lain untuk mendapatkan kendaraan politik menuju pillres, pada titik ini jokowi memindahkan keranjang sampahnya dari PDIP kepada partai lain yang dipaksakan” mengusung putranya.

Hampir dua periode jokowi mengendarai PDIP lalu kemudian meninggalkannya begitu saja dengan begitu banyak recidu yang ditinggalkan dan pada akhirnya jokowi berpindah ke lain hati dan bermesraan dengan mantan rivalnya pada dua kali perhelatan pillpres yakni prabowo subianto, tentunya dengan satu tujuan yakni agar putra sulungnya menjadi pelanjut trah kekuasaannya yang dipasangkan dengan prabowo agar Jokowi masih bisa ikut cawe-cawe mengatur kekuasaan, langkah zig-zag ini tentu tidak dilakukan begitu saja melainkan dengan kalkulasi high politik sebab ini adalah langkah yang beresiko tinggi, namun tindakan nekat jokowi mengangkangi konstitusi dan membonsai demokrasi merupakan gambaran ketakutan yang luar biasa dari jokowi mana kala yang menggantikan dirinya menjadi presiden adalah orang-orang yang tidak diinginkannya, salah satunya adalah sosok anis baswedan yang dikenal punya track record bersih dan tidak bisa diajak kompromi dalam menegakkan aturan, apabila anis ditakdirkan memenangkan pilpres maka bisa dipastikan akan melakukan audit besar-besaran kebijakan jokowi baik yang sifatnya regulasi administratif system tata kelola pemerintahan maupun tata kelola keuangan wabilkhusus penggunaan anggaran ribuan trilyun dana pinjaman luar negeri yang ditengarai terjadi banyak kebocoran sehingga terjadi dish orientasi pemanfaatannnya,begitu pula dengan beberapa kebijakan jokowi yang dianggap irrasional seperti pemaksaan pembangunan IKN dan kereta cepat yang dilakukan pada saat negara mengalami defisit keuangan yang sangat parah dan terbelit utang luar negeri yang sangat fantastis jumlahnya hal demikian inilah yang menjadi kekhawatiran utama jokowi sehingga segala cara dilakukan untuk menghalangi anis baswedan maju menjadi capres.

Bau busuk dari lingkaran istana kini mulai tercium seperti intervensi beberapa kasus penegakan hukum yang berhubungan dengan KPK yang sebelumnya didahului dengan undang-undang pelemahan pemberantasan korupsi mengakibatkan indeks penanganan dan pemberantasan korupsi yang semakin anjlok selaras dengan anjloknya indeks penegakan hukum serta indeks demokrasi yang juga semakin memburuk semuanya terakumulasi menjadi legacy keranjang sampah jokowi yang suka tidak suka akan senantiasa di asosiasikan dengan prabowo, fakta politik ini menjadi resiko berat yang harus ditanggung oleh prabowo sebagai imbas dari ambisinya berpasangan dengan gibran dengan kata lain prabowo menjelma menjadi keranjang sampah raksasa jokowi.

Turbulensi demi turbulensi terus tersaji di depan publlik, misalnya nyanyian-nyanyian para influencer dan buzzer binaan jokowi selama ini yang melontarkan nada kekecewaan terhadap jokowi, mantan loyalitas jokowi seperti eko kuntadi,deny siregar,islah bahrawi dan lain-lain semuanya bernada yang sama yakni berbalik badan meninggalkan jokowi begitu pula dengan mantan menteri agama fahrul rozi yang viral menceritakan proses pembubaran FPI sebelumnya mantan panglima TNI jenderal andika yang mengungkapkan adanya tekanan yang luar biasa saat pemilu tahun 2019, tidak menutup kemungkinan besok atau lusa dan hari-hari berikutnya masih ada nyanyian mantan orang dalam lingkaran istana yang siuman dari segala kegetiran kepemimpinan jokowi, hal demikian akan menjadi ceruk lawan-lawan politik jokowi untuk mengkapitalisasi issu tersebut dan selanjutnya dijadikan amunisi dalam perhelatan kampanye pilpres.

(Muhammad Askar/Makassar/red)

Tinggalkan komentar