PERGINYA BAPAK BANGSA, Jejak teladan mendiang Buya Syafii

News Lintas Sulawesi/Makassar

Armin Mustamin Toputiri

Sore itu, di jalan sempit sebuah perumahan, seorang berusia lanjut bersungut mengayuh sepeda tuanya. Di belakangnya, ada seorang mengendara mobil. Segan, tak sudi mendahului. Tapi kemudian, mengabadikan momen orang bersepeda itu. Sekian menit, hingga lenyap dari pandangan mata di tikungan sebuah lorong.

Rekaman video yang pernah ramai beredar di media sosial itu, seketika menguap dari endapan memori ingatan saya, kala membaca berita, jika Prof DR Ahmad Syafii Maarif telah berpulang. Sebab, sosok berusia lanjut yang bersungut mengayuh sepeda bututnya itu, tak lain adalah dirinya.

Betapa sungguh, di tengah perilaku hidup hedonis, kegandrungan pencitraan perilaku, hiruk pikuk pemberitaan banyaknya penyimpangan penguasa, tapi tokoh sekaliber dirinya, hingga didaulat “Guru Bangsa” — sekelas Presiden RI pun ia gurui — masih sudi menjalani aktifitas yang dalam takaran normal sudah tak tepat, malah tak pantas bagi bagi dirinya. Bersepeda butut, pula mengayuhnya sendiri.

Apa yang kurang dari seorang Guru Besar, serta ragam status dan kedudukan dipunyai. itu. Andai ia hendak hidup bermewah, suatu yang tak sulit baginya. Paling kurang, cukuplah memiliki mobil tua sekalipun, dibanding sepeda butut. Atau, setidaknya kembali memiliki motor Honda CB-25, seperti miliknya dulu, sebagaimana diungkap muridnya Hamid Basyaib dalam obituari kepergiannya.

Tak tamggung, jam terbang si “Anak Kampung” — judul novel Damiem Demantra, difilmkan dan meraih AIFF, America International Film Festival — itu, sangatlah tinggi. Meraih gelar akademik di dua universitas terkemuka USA, di Ohio dan Chicago. Bersama Nurcholis Madjid, diasuh pemikir besar neo-modernis, Fazlur Rahman. Persentuhannya dengan tokoh besar dunia, juga tak tanggung. Ia presiden WCRP, World Conference of Religion for Peace.

Bertahun-tahun mengabdi sebagai pengajar di banyak perguruan tinggi, khususnya dosen tetap di IKIP-UNY. Senarai pemikirannya diterbitkan dalam banyak buku. Tak kecuali, ia penulis produktif. Selain menulis artikel, juga pengasuh kolom esei di sejumlah media. Belum lagi, tak terbilang betapa rutinnya ia diminta jadi nara sumber di sejumlah pertemuan ilmiah, maupun keagamaan.

Publik awam, paling masyhur tahu jika dirinya mantan Ketua Umum dan tokoh terdepan di salah satu ormas terbesar yang punya jutaan pengikut. Bahkan, berkat dan berkah kegemilangannya membawa ormas Muhammadiyah kembali pada khittah pendirian dan perjuangannya, didaulat memimpin Ormas itu selama dua periode.

Dirinya tokoh terdepan di organisasinya, tapi ayal. Justru sebaliknya terjadi. Suatu waktu, kala kesehatannya sedikit terganggu, ia datang sendirian di poliklinik milik ormas Muhammadiyah. Sosok yang datang, tak lain adalah mantan Ketua Umum ormas pendiri poliklinik kesehatan itu, tapi tetap saja memilih duduk di kursi, antrean bersama sekian orang calon pasien lain.

Duh, tapi itulah Buya Syafii. Tak mentang-mentang. Kenapa ia tak menerobos saja. Tak langsung saja masuk ke ruang dokter, melangkahi antrean panjang puluhan calon pasien lain. Bukankah, cukup lama dianut oleh masyarakat kita — bahkan telah mewujud normal, dianggap sah — jika orang-orang berkedudukan penting, bahkan tak penting sekalipun, selalu jadi sasaran prioritas. Dikedepankan dibanding yang lain, meski urusannya jauh lebih penting.

Tepatnya, mengedepankan diri dalam urusan publik. Fakta yang tak lagi mungkin bisa dielak, jika sudah sedemikian adanya. Siapa pun kita, seringkali terjebak memahami orang lain di sekitar kita, bukan pada sepenting apa urusannya. Sebaliknya, justru terjadi, sepenting apa kedudukannya. Soal sepenting apa urusannya, itu urusan lain.

Saya, bahkan siapapun kita — khususnya yang masih punya nurani — mestinya merasa dipermalukan oleh Buya Syafii lewat prilaku teladan yang dipertontonkan. Apalagi, foto antriannya itu beredar di media sosial, bukan hasil selfi. Juga bukan dipotrer untuk motif pencitraan. Tapi diabadikan pihak lain yang ia sendiri tak tau.

Perilaku Buya Syafii, langsung tak langsung mengingatkan bahkan “menampar” kita untuk segera kembali pada perilaku yang senormalnya. Semestinya, sekurangnya selaras porsi idealnya. Reputasi Buya Syafii melambung tinggi, tapi perilakunya rendahan. Jauh berbanding terbalik pada perilaku kita. Kadar tampilan prrilaku kita, seringkali lebih tinggi. jauh melampaui reputasi rendahan yang sedang kita jabat dan punyai.

Buya Syafii, kini telah dua malam berlelap di alam kubur, dan untuk selamanya. Tapi jejak legacinya, tetap mewaris abadi di muka bumi. Jejak bentangan panjang narasi kecendekiaannya, seperti telah diulas sekian orang pandai di banyak tulisan obituari di sejumlah media, pasca kepulangannya. Khususnya tentang keagamaan dan ke-Indonesia-an. Sumbangan besar bagi kemaslahatan negeri yang plural ber-bhinneka tunggal ika.

Jejak lain yang tak kalah urgennya bagi kemanusiaan dan perilaku. Sebuah bentuk pembelajaran prilaku keteladanan yang sangat relevan dalam kondisi carut marutnya pemimpin dan kepemimpinan bangsa kita saat ini. Khususnya sejak memasuki babakan alam demokrasi terbuka. Tak mustahil menuju dimokrasi liberal.

Selamat jalan “Guru Bangsa”. Guru yang sebenar-benarnya “guru” bagi bangsa”. Lahu al Fatihah.

Makassar, 29 Mei 2020

(Muhammad Askar/red)

(Editor : Muhammad Aidil)

Tinggalkan komentar